Usai menerima buncahan kemarahan pengendara motor, sang sopir kembali menaikkan kecepatannya. Bukan untuk ngebut lagi, tapi agar ia bisa melewati motor tersebut. Karena setelah mobilnya berada di depan motor, ternyata ia menghentikan mobilnya, lalu turun, dan menyetop si pengendara motor. Melihat kejadian itu, teman si sopir sudah ketar-ketir khawatir terjadi perkelahian besar-besaran seperti yang kerap terjadi di jalan-jalan.
Tapi, rupanya dugaannya meleset, karena begitu motor berhenti, ternyata sopir tadi justru saling menjulurkan tangannya, seraya saling mengakui kesalahan yang sudah diperbuatnya dan meminta maaf kepada si pengendara motor. Subhanallah.
Di tengah banyak orang yang sangat berat mengakui kesalahan dan kekurangan dirinya, bahkan amat mahir dan profesional menjadi pahlawan kebencihan dalam berapologetik dan mencari segudang alasan pembenaran atas kesalahan yang sudah dilakukannya, bahkan yang memiliki power kadang-kadang terjebak dengan imajiner yang dapat merusak hubungan emosional. Kalau bagi yang memiliki power apa yang tidak bisa dilakukan..?, semuanya barangkali dapat dilakukan. Tapi, mungkin dan barangkali peristiwa di atas bisa menjadi pelajaran indah, bagi orang-orang yang profesional. Bukan menghindar atau lari dari kesalahan yang diperbuatnya, melainkan berani meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. Ia menafikan beragam fenomena perilaku kriminal yang amat lihai berkelit dengan sejumlah alibi.
Padahal, kesadaran seseorang untuk mengakui kesalahan adalah mutiara berharga yang mengantarkan dirinya memiliki sikap tawadhu, yang dijanjikan Nabi: "Tidaklah seseorang itu tawadhu karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya." (HR Muslim).
Itulah akhlak yang dimiliki oleh orang-orang saleh, yang sangat ringan dalam mengakui kesalahan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Kita lihat misalnya Ka'ab, Murarah, dan Hilal yang tak ikut Perang Tabuk. Juga Ma'iz bin Malik atau seorang wanita Ghamidiyah yang langsung menghadap Nabi dan dengan terang-terangan mengaku berzina, seraya siap menerima segala risiko dari pertobatannya itu demi membersihkan dirinya sehingga bisa menemui Rabbnya dengan tanpa noda.
Takut posisi jabatan hilang dan kehormatannya rusak, boleh jadi itulah faktor yang menghalangi seseorang untuk mengakui kesalahan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Padahal, tak harus demikian, malah dengan menyadari dan mengakui kesalahannya bisa menaikkan kehormatan dan integritas diri seseorang. Abul Hasan al-Asy'ari, misalnya, mantan imam besar mazhab Mu'tazilah. Saat ia sadar bahwa haluan pemikiran yang diikutinya salah, Abul Hasan pun memublikasikannya di hadapan publik. Abul Hasan tidak merasa benar, atau mencari perlindungan dengan penguasa untuk pembenaran haluan pemikiran yang diikutinya. Ada pesan bahwa kehormatan dan integritas diri seseorang akan naik kalau ia menjadi pahlawan kebenaran, bukan pahlawan pembenaran yang menginvistigasi yang bukan tugas dan tanggung jawab-nya.
Ada sifat yang baik yang harus menjadi karakter, kita harus belajar mengakui kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri kita, dan sportifitas mengakui kelebihan orang lain. Dengan pengakuan tersebut, tak membuat derajatnya surut, tapi justru menjadikannya sebagai tonggak utama dalam pengokohan pilar-pilar membangun umat. Harus diakui, bahwa negara ini membutuhkan orang-orang yang cerdas (IQ, SQ, SQ). Semoga.*nalk*