Home » » BBM Tidak Jadi Naik tapi Emosi keburuan naik pro...

BBM Tidak Jadi Naik tapi Emosi keburuan naik pro...

Written By yurdinal ma on Kamis, 29 Maret 2012 | 01.01


Medan, yurdinalma.blogspot.com (29/03/2012) Seperti biasa, saat jam kerja kantor-kantor cukup ramai dikunjungi oleh pelanggan-pelanggannya, baik pelanggan eksternal maupun pelanggan internal. Tampak seorang pengemudi (manejer) suatu ruangan yang ditemani oleh beberapa orang staf yang selalu setia menemani bosnya itu dalam memberikan pelayanan bagi pelanggannya. Berbagai metode dan stategi serta pendekatan profesional telah diterapkan, evaluasi pelayanan selalu dilakukan agar semua pelanggan merasakan puas terhadap layanan yang diberikan. Tapi begitu kencangnya kebutuhan, kepentingan untuk menjadikan kemudi kantor itu  profesional dalam menjalankan amanah negara dalam melayanani dan melindungi kepentingan pelanggannya. Kadang-kadang nyaris ada kepentingan-kepentingan external  yang nyalip, yang berputar-putar pada tatanan non teknis akan timbul perilaku-perilaku impulsif yang bisa menyeret pada kepribadian yang menyimpang (personality disorder), tapi karena begitu kencangnya arus kepentingan untuk membawa kantor sebagai suatu wadah pelayanan publik yang profesional, hingga nyaris kehilangan kendali. Guna menyelamatkan kemudi kantor dari kepentinggan-kepentingan yang tidak profesional, terpaksa pengemudi harus menyalip kepentingan yang tidak profesional yang ada didepannya. Pengendara kepentingan yang profesional itu, kebetulan memboncengi beberpa orang yang sama kepentingannya dan mungkin saja didorong karena ada rasa cemburu, rasa kurang nyaman, rasa tidak adil, rasa ingin membela kawan karena ingin menjadi pahlawan kebencihan, seraya menumpahkan sumpah serpahnya. Sadar dengan kejadian tadi, pengemudi itu menurunkan kecepatannya. Kondisi itu dimanfaatkan sang pengendera mengejar, agar leluasa meluapkan amarahnya.

Usai menerima buncahan kemarahan pengendara motor, sang sopir kembali menaikkan kecepatannya. Bukan untuk ngebut lagi, tapi agar ia bisa melewati motor tersebut. Karena setelah mobilnya berada di depan motor, ternyata ia menghentikan mobilnya, lalu turun, dan menyetop si pengendara motor. Melihat kejadian itu, teman si sopir sudah ketar-ketir khawatir terjadi perkelahian besar-besaran seperti yang kerap terjadi di jalan-jalan.

Tapi, rupanya dugaannya meleset, karena begitu motor berhenti, ternyata sopir tadi justru saling menjulurkan tangannya, seraya saling mengakui kesalahan yang sudah diperbuatnya dan meminta maaf kepada si pengendara motor. Subhanallah.

Di tengah banyak orang yang sangat berat mengakui kesalahan dan kekurangan dirinya, bahkan amat mahir dan profesional menjadi pahlawan kebencihan  dalam berapologetik dan mencari segudang alasan pembenaran atas kesalahan yang sudah dilakukannya, bahkan yang memiliki power kadang-kadang terjebak dengan imajiner yang dapat merusak hubungan emosional. Kalau bagi yang memiliki power apa yang tidak bisa dilakukan..?, semuanya barangkali dapat dilakukan. Tapi, mungkin dan barangkali peristiwa di atas bisa menjadi pelajaran indah, bagi orang-orang yang profesional. Bukan menghindar atau lari dari kesalahan yang diperbuatnya, melainkan berani meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. Ia menafikan beragam fenomena perilaku kriminal yang amat lihai berkelit dengan sejumlah alibi.

Padahal, kesadaran seseorang untuk mengakui kesalahan adalah mutiara berharga yang mengantarkan dirinya memiliki sikap tawadhu, yang dijanjikan Nabi: "Tidaklah seseorang itu tawadhu karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya." (HR Muslim).

Itulah akhlak yang dimiliki oleh orang-orang saleh, yang sangat ringan dalam mengakui kesalahan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Kita lihat misalnya Ka'ab, Murarah, dan Hilal yang tak ikut Perang Tabuk. Juga Ma'iz bin Malik atau seorang wanita Ghamidiyah yang langsung menghadap Nabi dan dengan terang-terangan mengaku berzina, seraya siap menerima segala risiko dari pertobatannya itu demi membersihkan dirinya sehingga bisa menemui Rabbnya dengan tanpa noda.

Takut posisi jabatan hilang dan kehormatannya rusak, boleh jadi itulah faktor yang menghalangi seseorang untuk mengakui kesalahan dan kekurangan yang ada pada dirinya. Padahal, tak harus demikian, malah dengan menyadari dan mengakui kesalahannya bisa menaikkan kehormatan dan integritas diri seseorang. Abul Hasan al-Asy'ari, misalnya, mantan imam besar mazhab Mu'tazilah. Saat ia sadar bahwa haluan pemikiran yang diikutinya salah, Abul Hasan pun memublikasikannya di hadapan publik. Abul Hasan tidak  merasa benar, atau mencari perlindungan dengan penguasa untuk pembenaran haluan pemikiran yang diikutinya. Ada pesan bahwa kehormatan dan integritas diri seseorang akan naik kalau ia menjadi  pahlawan kebenaran, bukan pahlawan pembenaran yang menginvistigasi yang bukan tugas dan tanggung jawab-nya.

Ada sifat yang baik yang harus menjadi karakter, kita harus belajar mengakui kelemahan dan kekurangan  yang ada pada diri kita, dan sportifitas mengakui kelebihan orang lain. Dengan pengakuan tersebut, tak membuat derajatnya surut, tapi justru menjadikannya sebagai tonggak utama dalam pengokohan pilar-pilar membangun umat. Harus diakui, bahwa negara ini membutuhkan orang-orang yang cerdas (IQ, SQ, SQ). Semoga.*
nalk*

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FOKUS PESISIE. COM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger