Home » » Merintis Kemajuan dari Madrasah

Merintis Kemajuan dari Madrasah

Written By yurdinal ma on Minggu, 25 Maret 2012 | 23.55

agama
Dalam buku, History of the Moorish Empire in Europe, SP Scott melukiskan suasana di sebuah ruang belajar yang diliputi gairah Muslim memahami ilmu. Terdapat risalah tebal mengenai bedah dan obat-obatan. Di tangan masing-masing murid tergenggam pera langit yang berisi nama-nama bintang dalam bahasa Arab. "Seperti muazin yang luhur, mereka tak sekadar menghapalnya, tapi juga mengambil hikmah dari kekayaan langit itu yang menambah keyakinan agamanya, Tradisi belajar menjalar secara cepat di kalangan Muslim dan memantik mereka membangun tempat-tempat belajar. Tak heran jika bermunculan lembaga pendidikan yang sangat berperan menebar ilmu pengetahuan.




Jadi, mereka yang haus ilmu dengan mudah menentukan pilihan di mana mereka mau belajar, madrasah, atau masjid. Pada akhir abad ke-13 M, terbentuk banyak lembaga pendidikan, termasuk pendidikan tinggi. Umumnya itu bermula dari keinginan komunitas cendekiawan memperluas dan mengajarkan ilmu pengetahuan. Lembaga yang banyak dikenal biasanya adalah madrasah. Tak jarang madrasah menyatu dengan bangunan masjid. Madarasah pertama digagas oleh Ibnu Jubair (wafat 614 H/1217 M). Saat berkunjung ke Baghdad, Irak, selama 30 hari, ia terpikir untuk membangun madrasah. Ia memenuhi tekadnya itu dan sebuah madrasah pun tegak-berdiri.
 
Bak jamur di musim hujan, langkah serupa cepat menyebar. Bukan hanya dilakukan satu atau dua kelompok orang, tetapi banyak kalangan. Saat pemerintahan Seljuk, gerakan ini bahkan disponsori oleh para elite penguasa dan kelompok berpunya. Misalnya, seorang wazir bernama Nizam al-Mulk. Dengan madrasahnya, pada kemudian hari, ia dikenal sebagai peletak tonggak pendidikan. Sebab, pengajaran yang berlangsung di madrasahnya tertata dengan baik dan menggunakan silabus. Tak heran bila madrasah di Baghdad yang berdiri pada 1066 Masehi itu berpengaruh pada perkembangan madrasah yang mempunyai sistem pengajaran baik. Sejarawan Abu Shamah mengatakan, madrasah yang dibuat Nizam al-Mulk terkenal di seluruh dunia

Madrasah tersebut menjadi percontohan. "Tidak ada desa yang tidak memiliki sekolah yang memakai sistem al-Mulk," jelasnya. Karena sangat luasnya, intervensi negara pun mulai dilibatkan dalam beberapa pengawasan terhadap pengajaran, seperti yang terjadi di Madrasah Nizamiyyah. Para penggagas sekolah harus mendapatkan izin dari khalifah setempat untuk memulai pengajaran pada penduduk lokal.

Tujuannya agar ada standar dalam kegiatan belajar dan mengajar. Setelah era rintisan Nizam al-Mulk, para penguasa seakan berlomba membangun madrasah, seperti yang dilakukan Sultan Nuruddin, yang naik takhta pada 1148. Walhasil, di kota-kota besar negara Islam, berdiri lembaga pendidikan seperti madrasah, di antaranya di pusat kerajaan di Damaskus dan kota-kota besar lainnya di Mesir.

Sementara itu, sistem pendidikan di Eropa kala itu hanya menjadi hak istimewa bagi kalangan minoritas pendeta atau elite atas. Kaum berpendidikan di sana pun jumlahnya tidak melebihi beberapa ratus orang. Kota Yerusalem, yang sekarang menjadi sengketa Palestina-Israel, menjadi salah satu wilayah yang sarat lembaga pendidikan terkenal.

Seorang sarjana abad pertengahan, Qadhi Mudjir ad-Din (wafat 1521 M), memberi penjelasan rinci. Menurutnya, salah satu pusat pendidikan di sana terletak di dalam area Masjid al-Aqsa. Berdekatan dengan tempat jamaah perempuan, tersebutlah Madrasah Farisiya. Madrasah ini didirikan oleh Emir Faris ad-Din al-Baky. Pada masa itu juga, ada Madrasah Nahriya dan Nasiriya.

Tempat pendidikan yang terakhir disebut didirikan seorang sarjana Yerusalem, Syekh Nasr. Setelah itu, dikenal pula Ghazaliya, yang dibentuk sarjana yang terkenal dengan al-Ghazali. Di luar lingkup Masjid al-Aqsa terdapat Madrasah Qataniya, Fakriya, al-Baladiya, dan Tankeziya. Yang terakhir, kata Mudjir, adalah sebuah madrasah besar, terletak di Jalan Khatt.

Hal ini juga perlu diperhatikan bahwa pendiri madrasah ini adalah Emir Tankiz Nasri, wakil penguasa Suriah. Beliau bertanggung jawab membangun saluran air untuk pasokan air Yerusalem. Peran Muslimah Turki pun terlihat dalam pembangunan sejumlah madrasah di dalam dan sekitar Masjid al-Aqsa. Sebagai contoh, Madrasah Othmania dikepalai oleh seorang perempuan.

Dia dipercaya sang pemilik madrasah, yang merupakan salah satu keluarga terkaya di Yerusalem, Isfahan Shah Khatun. Di sisi lain, pada 1354 M, para pengajar Madrasah Khatuniya dilantik oleh Oghl Khatun, putri Syams ad-Din bin Muhammad Sayf ad-Din dari Baghdad.  Madrasah itu dibiayai oleh pengusaha lokal.

Sejarawan Timur Tengah Shalaby memberikan referensi yang sangat baik dari salah satu madrasah yang terkenal seperti al-Nuriyyah al-Kubra di Damaskus. Lembaga ini didirikan oleh Nuruddin, yang telah dijelaskan oleh Ibnu Jubair sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Shalaby sempat memberikan gambaran madrasah ini.

Madrasah ini, ujar dia, terletak di Khatt al-Khawwasin yang sekarang disebut al-Khayyarin,  sekitar setengah mil dari barat daya Masjid Umayyah. Madrasah memiliki penanda gerbang masuk berupa lengkungan dengan pintu luar dan luas lorong menuju ke lapangan dengan palang pintu luar yang dihiasi dengan hiasan seperti tablet.

Tempat yang dimaksud Shalaby dinamakan Iwan. Titik ini menjadi tempat paling penting di sekolah Islam. Ini setara dengan ruang kuliah modern, tempat di mana perkumpulan majelis pendidikan diadakan. Tidak jauh dari Iwan, terletak masjid yang menjadi simbol penguat lembaga pendidikan Muslim. Masjid ini juga terbuka untuk jamaah lain di luar madrasah.

Bukan hanya itu, madrasah tersebut mempunyai delapan ruangan untuk siswa. Pihak madrasah  menyediakan penginapan bagi para penjaga sekolah. Fasilitas lainnya berupa jamban, dapur, ruang makan, toko makanan, dan toko umum. Sebagian besar bangunan madrasah masih berdiri kokoh sampai sekarang. ed: ferry kisihandi

Jenis dan ukuran sebuah madrasah sungguh beragam, mulai dari yang hanya mempunyai kelas tunggal hingga yang besar. Ada pula yang dilengkapi perpustakaan plus ruang kuliah besar, seperti digambarkan B Dodge tentang al-Mustansiriyah dalam karyanya, Muslim Education. Sejarawan ini mengelompokkan lembaga pendidikan ini dalam kategori universitas.

Menurut dia, al-Mustansiriyah berdiri pada 1234 Masehi. Khalifah al-Mustansir dari trah Abbasiyah yang mendirikannya. Ayah dari al-Mustassim ini memilih lokasi di selatan Gharabah sebagai lokasi madrasah. Letaknya yang berdekatan dengan tepian Sungai Tigris membuatnya dibangun dengan struktur dua tingkat yang kokoh.

Selain kuat di tampilan luarnya, sang khalifah memperhatikan faktor kesehatan lingkungannya. Pola pembangunannya memenuhi seluruh syariat Islam. Tersedia ruang terbuka yang luas di tengah bangunan. Di pinggir lahan tersebut dibangun sederetan ruang untuk guru dan murid. Di lahan yang sama juga dibangun Masjid Jami al-Kasr.


Masjid ini mengalami perombakan dengan menambahkan empat ruangan teras (Dikkah) di sisi barat mimbar. Di tempat tersebut, para mahasiswa bisa singgah usai menunaikan shalat Jumat. Arsitektur ini masih dipertahankan. Sistem penggajian di al-Mustansiriyah juga sistematis. Para pengajarnya digaji bulanan. Begitu pula sekitar 300 orang mahasiswanya, menerima dinar setiap bulannya.

Para mahasiswa mendapatkan pengajaran bersama oleh profesor dan seorang asistennya. Selain itu, ada ruang-ruang kelas kecil yang menampung seorang guru dan 10 orang mahasiswa. Mereka mengkaji bahasa tradisional, hukum, dan agama. Bidang sains lainnya diminati pula, seperti aritmetika, survei tanah, sejarah, puisi, higienitas, perawatan hewan dan tanaman, serta medis.

Fasilitas penunjang seperti perpustakaan tersedia, dikelola seorang pustakawan dan asistennya. Menurut Ibnu al-Furat, perpustakaan mempunyai koleksi buku lengkap. Beberapa karya di bidang sains memudahkan mahasiswa mendapatkan yang diinginkan. Pena dan kertas diberikan gratis. Penerangan sangat memadai lewat lampu-lampu minyak.

Khalifah al-Mustansir tak main-main dengan proyek pendidikannya. Dia acap kali menelusuri ruang-ruang madrasah dan mengamati kegiatan belajar-mengajar. Dia melakukannya melalui  sebuah jendela bangunan kecil (manzarah) yang menghadap langsung ke ruang kuliah. Ia menyimak materi yang disampaikan pengajar.

Setelah bertahun-tahun berdiri, cendekiawan Muslim Ibnu Batutta sempat singgah pada 1327 Masehi. Dia mengisahkan keistimewaan madrasah ini. Meski diserang bangsa Mongol pada 1258, perkuliahan masih bisa berlangsung. Pada 12 tahun setelah kedatangan Batutta, ahli geografi Hamd Allah sempat singgah. Ia mengatakan, bangunannya masih tetap menyimpan pesona keindahan.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas saran dan komentar yang dikirimkan! Wassalam!

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FOKUS PESISIE. COM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger