Home » » PAIKEM sebagai Pembelajaran Konvensional

PAIKEM sebagai Pembelajaran Konvensional

Written By yurdinal ma on Selasa, 20 Maret 2012 | 21.35


Yurdinal MJ, MA
Yurdinal, M.ASeayun dengan perkembangan zaman dan Ilmu Pengetahuan serta Teknologi, maka seorang guru yang professional tidak bisa menawar suatu keharusan untuk terus mengadakan pembaharuan  dan inovasi pembelajaran. Terutama sekali yang bersentuhan langsung dengan kemajuan dan perkembangan potensi siswa itu sendiri, yakni Sistem Pembelajaran. Sistem yang ada di dalam pembelajaran harus terus mengadakan "mutasi" dan ”inovasi” kearah yang positif demi mendukung sinergitas dengan kemajuan tadi. Pembelajaran di dalam kelas sebagai suatu sub system yang sangat penting dalam pembelajaran.



Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran gencar ditelorkan demi menghasilkan transfer pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Salah satu yang sangat gencar diperkenalkan dan dilatihkan adalah Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan. Hakikat Paikem sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu Paikem sangat memperhatikan keinginan atau kegemaran siawa, yakni bermain. Pembelajaran diolah sedemikian rupa sehingga terdapat unsur permainan di dalamnya. Mulai pembelajaran dalam bentuk lomba, kerjasama atau diskusi, sampai pembelajaran yang dilakukan di luar kelas. 

Kemunculan Paikem sebenarnya disebabkan adanya indikasi bahwa siswa jenuh terhadap pembelajaran yang selama ini diterapkan oleh guru. Pembelajaran yang monoton, hanya mendengarkan guru berceramah sedangkan siswa pasif, kurangnya transfer ilmu yang dapat bertahan lama pada siswa (tidak efektif), dan terakhir tentu saja sangat membosankan/tidak menyenangkan siswa dalam belajar. Demikianlah nuansa pembelajaran yang kebanyakan dilakukan oleh guru selama ini dan pembelajaran yang demikian disebut sebagai pembelajaran konvensional. 

Berfikir  tentang pembelajaran yang konvensional, maka akan terasimilasi pada pembelajaran yang negatif, dalam arti sebaiknya tidak dilakukan lagi. Jika kita bertanya kepada seorang guru sebagai tenaga professional atas pilihannya antara Paikem dan pembelajaran yang konvensional, maka guru  cendrung jawabannya akan memilih Paikem, meskipun nyata-nyata dalam keseharian di sekolah maupun di Madrasah, guru tersebut mempraktekkan pembelajaran yang konvensional tadi. Jika kita kembali menanyakan tentang "keengganannya" mengaplikasikan Paikem, maka dapat saja dia mengatakan bahwa tanpa Paikem pun pembelajaran dapat terlaksana dan lebih mudah pelaksanaannya. 

Bukan karena ketidaktahuan guru terhadap aplikasi Paikem, tapi lebih disebabkan unsur mudah dan sukarnya pembelajaran itu diterapkan. Lalu, mengapa pembelajaran yang "konvensional" tadi mudah diterapkan dan Paikem terasa sangat sulit untuk diaplikasikan?.  Sesuatu yang selalu atau berulang-ulang kita lakukan pastilah akan terasa mudah bagi kita untuk mengerjakannya. Hal ini pulalah yang terjadi pada pembelajaran yang dikatakan konvensional tadi. Hampir setiap hari guru melakukan pembelajaran dengan teknik dan metode yang begitu-begitu saja, maka terasa kemudahan dalam penerapannya. Sedangkan Paikem, mendengarnya saja mungkin ada di antara guru kita yang sudah membayangkan kesulitan yang dihadapi nantinya di kelas.
 
Jika kita kembali untuk mengamati secara lebih teliti pembelajaran yang selama ini menjadi kegandrungan guru dalam menerapkannya, maka akan membuat kita bertanya-tanya, dimana fungsi didaktik dan metodik yang selama ini kita sebagai guru telah fahami dalam pendidikan keguruan, karena tanpa unsur didaktik dan metodik sekalipun pembelajaran konvensional tadi dapat terlaksana. Jika demikian, pada akhirnya akan kita sepakati bahwa meski bukan seorang guru sekalipun pembelajaran yang konvensional tadi, akan dapat terlaksana. Lalu, dimana profesionalitas kita sebagai guru? Kemana kemampuan lebih kita dalam proses pembelajaran dibanding yang bukan guru? Apa hanya dengan memikirkan mudah dan sukarnya penerapan itu, kita korbankan identitas guru kita? 

Mari kita tarik benang merah terhadap persoalan di atas. Bahan kita adalah, bahwa Paikem sebenarnya bukanlah pembelajaran yang benar-benar baru bagi guru. Sejak dalam penggodokan di sekolah keguruan kita telah menerima berbagai kiat dalam menggairahkan suasana kelas sehingga siswa belajar atau kemauannya sendiri dan pada akhirnya pengetahuan yang diperolehnya akan bertahan lama. Selain itu, guru tentu lebih banyak tahu teknik dalam menggairahkan siswa dalam proses pembelajaran. Hanya dengan sedikit berpikir (sesuatu yang harus selalu ada pada diri guru) mereka akan mampu menemukan sinkronisasi antara materi yang akan diajarkan dengan teknik yang menggairahkan siswa. Lalu, bagaimana seorang guru dapat menerima tantangan bahwa teknik konvensional tadi lebih mudah? Gampang! Jadikan Paikem menjadi pembelajaran yang konvensional, maka jadilah dia “Paikem” itu mudah dilaksanakan.
Mulailah hari ini kita terapkan Paikem di kelas kita. Sulit? Bulatkan tekad kita untuk menjadi guru yang benar-benar guru atau guru profesional”, sehingga kesulitan yang memang biasa dialami jika awal kita melaksanakan tidak akan terasa. Esok hari dan seterusnya, Paikem menjadi pilihan utama kita dalam pembelajaran di kelas, maka jadilah Paikem sebagai pembelajaran yang Konvensional.

Paikem sebagai pembelajaran konvensional tentu saja tidak lagi terkesan negatif, justru akan lebih baik. Paikem dianggap oleh guru sebagai pembelajaran yang mudah direalisasikan dalam pembelajaran di kelas bahkan setiap hari sekalipun. Paikem sebenarnya meneguhkan identitas kita sebagai guru. Seorang guru harus mampu memilih atau berkreasi sendiri atas metode yang akan dilaksanakan sehingga proses trasfer pengetahuan berjalan dengan baik. Guru harus mampu memanfaatkan atau membuat sendiri peraga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran demi perhatian siswa dan lebih memudahkan konsep materi yang akan ditransfer. Guru harus mampu mengelola kelas agar bergairah dan menyenangkan siswa. Kesemua kemampuan itu tentu saja hanya dapat dipunyai dan diaplikasikan oleh seorang guru profesional. Oleh karena itu mari kita mantapkan identitas kita sebagai guru dengan mengaplikasikan Paikem sebagai pembelajaran konvensional yang kita gandrungi. Sekian ***
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas saran dan komentar yang dikirimkan! Wassalam!

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. FOKUS PESISIE. COM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger